Di era digital seperti sekarang, kecerdasan buatan sudah bukan barang baru. Hampir semua orang pernah berinteraksi dengan AI, entah buat cari jawaban, ngerjain tugas, sampai sekadar ngobrol iseng. Tapi di balik kemudahan itu, ada satu isu klasik yang selalu bikin waswas: privasi. Belakangan, jagat media sosial kembali ramai oleh isu yang cukup bikin merinding. Muncul klaim bahwa ChatGPT bisa diam-diam mengawasi pengguna lewat kamera ponsel. Tuduhan ini muncul setelah beredarnya sejumlah video uji coba di TikTok yang memperlihatkan chatbot tersebut seolah-olah tahu kondisi pengguna secara real-time.
Pertanyaannya, apakah ini benar? Atau cuma kebetulan yang dibumbui asumsi berlebihan? Yuk kita bongkar satu per satu faktanya dengan kepala dingin.
Awal Mula Kecurigaan: Tren Uji Coba “Ya–Tidak”
Isu ini mulai mencuat setelah sebuah akun TikTok, salah satunya @dnyckn, mengunggah video eksperimen menggunakan mode voice chat. Dalam video tersebut, pengguna memberikan instruksi khusus agar ChatGPT hanya menjawab pertanyaan dengan “YA” atau “TIDAK”.
Logikanya sederhana:
kalau AI bisa menjawab kondisi fisik pengguna secara tepat tanpa diberi informasi apa pun, berarti ada kemungkinan ia “melihat”.
Eksperimen ini pun langsung menarik perhatian warganet. Apalagi beberapa jawaban yang diberikan terlihat seperti tepat sasaran.
Rangkaian Pertanyaan yang Dianggap “Mencurigakan”
Uji coba dimulai dengan pertanyaan umum seperti:
- “Apakah bumi itu bulat?”
Jawaban: YA
Ini masih masuk akal. Lalu pertanyaan mulai mengarah ke hal yang lebih personal dan kontekstual.
Pengguna bertanya soal warna kaos yang sedang dipakai. Anehnya, ChatGPT menjawab dengan benar. Di percobaan lain, pengguna memakai jam tangan, dan AI menjawab “YA”. Saat jam tangan dilepas, jawabannya berubah jadi “TIDAK”.
Dari sini, banyak yang mulai curiga.
“Kok bisa tahu?”
“Jangan-jangan kamera aktif diam-diam?”
Namun eksperimen ini tidak selalu mulus. Di beberapa pertanyaan lain, AI justru menjawab salah. Misalnya saat ditanya apakah kaos yang dikenakan berwarna hitam, jawabannya keliru.
Dari total lima pertanyaan, hanya dua yang benar dan sisanya salah. Artinya, akurasi jawabannya tidak konsisten.
Jawaban Benar Bukan Berarti AI Mengawasi
Di sinilah banyak orang keliru menarik kesimpulan. Jawaban yang “kebetulan benar” langsung dianggap sebagai bukti pengawasan.
Padahal, ChatGPT memang dikenal bisa memberikan jawaban yang terdengar yakin, meskipun belum tentu benar. Fenomena ini sering disebut sebagai halusinasi AI jawaban dibuat berdasarkan pola bahasa, bukan pengamatan nyata.
Dengan tingkat akurasi yang hanya sekitar 40% dalam eksperimen tersebut, rasanya sulit menyimpulkan bahwa AI benar-benar mengetahui kondisi pengguna secara real-time. Kalau benar mengintip lewat kamera, seharusnya jawabannya konsisten, bukan tebak-tebakan.
Cara Kerja Mode Voice: Tidak Sesimpel Itu
Salah satu poin penting yang sering dilewatkan adalah soal izin akses. Mode voice di ChatGPT memang memungkinkan interaksi suara, bahkan berbagi gambar atau video. Tapi semua itu tidak otomatis aktif.
Akses kamera di ponsel harus diberikan secara manual oleh pengguna. Bahkan untuk berbagi video, pengguna perlu menekan tombol kamera secara sadar. Tanpa tindakan tersebut, sistem tidak bisa mengakses apa pun. Artinya, tidak ada skenario di mana kamera tiba-tiba aktif sendiri tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.
Apakah ChatGPT Bisa Mengakses Kamera Tanpa Izin?
Jawaban singkatnya: tidak.
Baik di mode chat biasa maupun mode voice, sistem tetap bergantung pada izin dari sistem operasi perangkat. Android dan iOS punya lapisan keamanan yang ketat soal ini. Setiap aplikasi yang ingin menggunakan kamera atau mikrofon harus mendapat persetujuan eksplisit. Kalau ada aplikasi yang melanggar, justru sistem operasi-lah yang patut dipertanyakan, bukan hanya AI-nya.
Soal Jawaban Percaya Diri tapi Salah
Hal lain yang bikin eksperimen ini terasa “meyakinkan” adalah gaya jawaban AI yang lugas dan tegas. Saat menjawab “YA” atau “TIDAK”, ChatGPT tidak menunjukkan keraguan.
Padahal, OpenAI sendiri sudah berulang kali menegaskan bahwa jawaban chatbot tidak selalu akurat. Bahkan saat salah, sistem bisa terdengar sangat yakin.
Inilah kenapa semua jawaban dari AI tetap perlu diverifikasi. Bukan cuma soal isu privasi, tapi juga soal fakta umum.
Klarifikasi dari OpenAI Soal Privasi
OpenAI melalui laman resmi dan dokumentasi privasinya menegaskan bahwa ChatGPT berfungsi sebagai asisten berbasis teks dan suara, bukan alat pemantau.
Tidak ada mekanisme pengawasan rahasia melalui kamera atau sensor perangkat. Semua akses fitur bersifat transparan dan membutuhkan persetujuan pengguna.
Untuk pengguna korporat, OpenAI bahkan menyediakan Enterprise Tier yang menjamin data tidak digunakan untuk pelatihan model sama sekali.
Kenapa Eksperimen “Ya–Tidak” Terasa Meyakinkan?
Jawabannya sederhana: efek psikologis.
Manusia cenderung mengingat jawaban yang benar dan mengabaikan yang salah. Dari lima pertanyaan, dua jawaban benar terasa “wow”, sementara tiga yang salah dianggap wajar.
Ditambah lagi, format video TikTok yang singkat dan dramatis membuat konteks eksperimen tidak dijelaskan secara utuh. Alhasil, penonton mudah terbawa asumsi.
Literasi Digital Masih Jadi Kunci Utama
Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, satu hal tetap penting: literasi digital. Pengguna perlu paham bagaimana teknologi bekerja sebelum menyimpulkan sesuatu.
Menganggap ChatGPT sebagai “mata-mata digital” tanpa bukti kuat justru bisa memicu ketakutan yang tidak perlu. Namun di sisi lain, bersikap terlalu naif juga bukan pilihan bijak.
Langkah Aman Menggunakan AI Tanpa Paranoia
Supaya tetap aman dan tenang saat memakai AI, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Jangan masukkan data sensitif
Hindari memasukkan kata sandi, PIN, detail kartu kredit, atau rahasia bisnis. - Cek izin aplikasi secara berkala
Pastikan kamera dan mikrofon hanya aktif saat dibutuhkan. - Update aplikasi dan sistem operasi
Pembaruan biasanya membawa perbaikan keamanan. - Jangan langsung percaya hasil eksperimen viral
Selalu cek sumber dan logika di balik klaim tersebut.
Dengan cara ini, kamu tetap bisa memanfaatkan teknologi tanpa rasa was-was berlebihan.
AI Bukan Malaikat, Tapi Juga Bukan Mata-Mata
Teknologi memang berkembang sangat cepat, dan wajar kalau muncul kekhawatiran. Tapi menyimpulkan bahwa ChatGPT mengintip lewat kamera hanya dari eksperimen “Ya–Tidak” yang tidak konsisten jelas terlalu jauh.
AI ini bekerja berdasarkan input yang diberikan, pola bahasa, dan probabilitas, bukan pengamatan visual rahasia.
Pada akhirnya, keamanan data bukan cuma tanggung jawab penyedia layanan, tapi juga pengguna. Selama kita tahu batasan informasi yang dibagikan, teknologi bisa jadi alat bantu yang aman dan bermanfaat.
Kesimpulan
Jawaban-jawaban singkat yang muncul dalam eksperimen viral tersebut lebih menunjukkan keterbatasan AI daripada bukti pengawasan. ChatGPT tetaplah asisten digital, bukan alat pemantau tersembunyi.
Namun satu hal yang patut diingat: teknologi akan terus berkembang. Kebijakan privasi bisa berubah, fitur baru bisa muncul. Maka dari itu, penting bagi pengguna untuk rutin membaca pembaruan dan memahami apa yang sedang digunakan. Di era kecerdasan buatan, sikap terbaik bukanlah takut berlebihan, tapi kritis, sadar, dan bertanggung jawab.
Baca artikel lainnya
Teror Telepon Asing? Ini Tips Ampuh Agar Nomor HP Kamu Tetap Aman!
