Awal tahun 2026 jadi momen yang cukup bikin heboh di dunia gaming, khususnya buat para penggemar handheld. Di ajang CES 2026, Lenovo kembali bikin kejutan dengan memperkenalkan Legion Go 2 versi terbaru. Sekilas memang kelihatannya nggak banyak berubah dari luar, tapi jangan salah perubahan terbesarnya justru ada di bagian dalam, tepatnya di sistem operasi.
Kalau sebelumnya banyak perangkat handheld berbasis Windows 11, kali ini Lenovo mengambil langkah yang cukup berani. Mereka resmi meninggalkan Windows dan beralih ke SteamOS, sistem operasi berbasis Linux buatan Valve yang selama ini identik dengan Steam Deck. Keputusan ini bukan tanpa alasan, dan ternyata justru bikin performa Legion Go 2 naik kelas.
Langkah ini langsung memicu banyak diskusi di komunitas gamer. Ada yang senang karena SteamOS terkenal ringan, ada juga yang penasaran apakah benar dampaknya bakal signifikan. Setelah informasi awal dan hasil pengujian mulai bermunculan, satu hal jadi jelas: versi SteamOS ini bukan sekadar ganti OS, tapi benar-benar mengubah pengalaman main game secara keseluruhan.
Kenapa SteamOS Jadi Pilihan?
Selama tahun 2025, Lenovo cukup aktif mendengar keluhan dan masukan dari pengguna Legion Go generasi sebelumnya. Banyak gamer mengakui bahwa secara hardware, Legion Go termasuk monster. Tapi sayangnya, Windows 11 sering dianggap “kebanyakan beban” untuk perangkat genggam.
Windows memang fleksibel, bisa buat kerja, browsing, sampai editing. Tapi untuk handheld gaming, sistem ini terasa kurang praktis. Startup lama, update suka muncul tiba-tiba, dan navigasi yang lebih cocok buat mouse jadi beberapa masalah yang sering dikeluhkan.
SteamOS hadir sebagai solusi dari semua itu. Sistem operasi ini sejak awal dirancang khusus buat gaming berbasis controller. Begitu dinyalakan, pengguna langsung masuk ke mode gaming tanpa ribet. Inilah alasan utama Lenovo akhirnya memutuskan pindah haluan.
Performa Lebih Ngebut di Hardware yang Sama
Hal menarik dari Legion Go 2 versi SteamOS adalah spesifikasinya yang hampir identik dengan versi Windows. Tapi meski “mesinnya” sama, performanya bisa beda cukup terasa.
Dari hasil benchmark awal yang beredar, beberapa game AAA menunjukkan peningkatan performa yang konsisten. Rata-rata fps naik sekitar 2 sampai 10 frame per detik, tergantung judul dan setting grafis. Angka ini mungkin kelihatannya kecil di atas kertas, tapi buat handheld, perbedaan itu cukup signifikan.
Kenaikan performa ini terjadi karena SteamOS punya overhead sistem yang jauh lebih ringan dibanding Windows. Artinya, tenaga prosesor dan GPU lebih fokus buat ngejalanin game, bukan buat proses latar belakang yang nggak perlu.
Buat Lenovo, ini jadi bukti bahwa optimalisasi software bisa sama pentingnya dengan upgrade hardware.
Fitur Suspend yang Bikin Ketagihan
Salah satu fitur favorit dari SteamOS adalah suspend-and-resume. Buat yang belum pernah pakai Steam Deck, fitur ini benar-benar game changer. Lagi main, tinggal tekan tombol power, perangkat langsung tidur. Begitu dinyalakan lagi, game langsung lanjut di titik terakhir, tanpa loading panjang.
Di Legion Go 2 versi SteamOS, fitur ini berjalan mulus. Nggak perlu nunggu Windows booting, nggak ada update dadakan, dan nggak ada drama aplikasi lain kebuka sendiri. Buat gamer yang sering main sebentar-sebentar, fitur ini kerasa banget manfaatnya.
Lenovo sendiri menilai fitur ini sebagai salah satu alasan kenapa pengalaman gaming jadi terasa lebih “konsol” dibanding sebelumnya.
Spesifikasi Tetap Gahar, Nggak Ada yang Dipangkas
Meski ganti sistem operasi, Lenovo nggak main-main soal spesifikasi. Legion Go 2 tetap ditenagai AMD Ryzen Z2 Extreme, salah satu chip paling kencang di kelas handheld saat ini. Prosesor ini dirancang khusus buat gaming portable, jadi efisien tapi tetap bertenaga.
RAM yang ditawarkan juga nggak tanggung-tanggung, mulai dari 16 GB sampai 32 GB LPDDR5X. Buat penyimpanan, tersedia opsi SSD PCIe Gen 4 hingga kapasitas 2 TB. Mau install game AAA segudang juga masih aman.
Kombinasi ini bikin Legion Go 2 tetap relevan untuk beberapa tahun ke depan, apalagi dengan dukungan SteamOS yang terkenal cepat berkembang.
Layar OLED Besar Jadi Nilai Jual Utama
Soal visual, Lenovo masih mempertahankan salah satu keunggulan terbesarnya. Legion Go 2 dibekali layar PureSight OLED berukuran 8,8 inci dengan resolusi WUXGA 1920 x 1200 piksel. Layarnya besar untuk ukuran handheld, dan kualitas OLED bikin tampilan makin memanjakan mata.
Refresh rate 144 Hz bikin animasi dan pergerakan terasa super halus. Ditambah tingkat kecerahan hingga 500 nits, layar tetap nyaman dipakai di berbagai kondisi cahaya. Warna hitam yang pekat dan kontras tinggi khas OLED bikin game seperti Cyberpunk 2077 atau Elden Ring terlihat jauh lebih hidup.
Buat Lenovo, layar ini jadi salah satu pembeda utama dibanding kompetitor di kelas yang sama.
Desain Masih Ikonik, Tapi Lebih Nyaman
Dari segi desain, Legion Go 2 versi SteamOS masih mempertahankan ciri khas kontroler yang bisa dilepas-pasang. Tapi kali ini, ergonominya ditingkatkan. Bentuk grip lebih nyaman, bobot terasa lebih seimbang, dan cocok buat sesi main lama.
Kontroler TrueStrike-nya sudah dibekali hall effect joystick, yang artinya lebih tahan lama dan minim risiko drifting. Selain itu, ada beberapa tombol tambahan yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan.
Lenovo jelas ingin memastikan bahwa meskipun fokus ke performa, aspek kenyamanan tetap jadi prioritas.
Baterai Lebih Awet Berkat SteamOS
Legion Go 2 dibekali baterai berkapasitas 74 Wh, tergolong besar untuk perangkat handheld. Di versi Windows sebelumnya, kapasitas ini kadang terasa cepat habis karena sistem yang berat.
Dengan SteamOS, pengelolaan daya jadi lebih efisien. Walaupun belum ada klaim resmi soal durasi baterai, banyak yang berharap peningkatan bisa cukup signifikan. Setidaknya, konsumsi daya idle dan saat suspend jauh lebih hemat.
Buat Lenovo, efisiensi daya ini jadi bonus besar dari perpindahan ke SteamOS.
Konektivitas Lengkap Buat Jadi Mini PC
Walaupun fokus sebagai handheld, Legion Go 2 tetap fleksibel. Ada dua port USB-C dengan dukungan USB 4.0, Power Delivery, dan DisplayPort. Artinya, perangkat ini bisa dihubungkan ke monitor eksternal, keyboard, dan mouse dengan mudah.
Dalam mode docked, Legion Go 2 bisa berfungsi layaknya PC mini buat gaming ringan atau multimedia. Ini salah satu alasan kenapa Lenovo masih melihat Legion Go sebagai perangkat hybrid, bukan cuma konsol genggam biasa.
Harga Lebih Masuk Akal
Kabar baik lainnya datang dari sisi harga. Legion Go 2 versi SteamOS dibanderol mulai dari $1.199, lebih murah dibanding versi Windows yang dulu rilis di kisaran $1.350. Selisih ini cukup terasa, apalagi untuk perangkat premium.
Penurunan harga ini diduga karena Lenovo nggak perlu lagi membayar lisensi Windows. Alhasil, penghematan bisa dialihkan ke konsumen.
Buat gamer yang ingin performa maksimal tanpa “beban” OS berat, harga ini terasa lebih masuk akal.
Kapan Masuk Indonesia?
Secara global, Lenovo menargetkan Legion Go 2 SteamOS mulai tersedia sekitar Juni 2026. Untuk pasar Indonesia memang belum ada tanggal resmi, tapi melihat versi Windows sebelumnya sempat masuk resmi, peluangnya cukup besar.
Biasanya, Lenovo Indonesia nggak butuh waktu terlalu lama buat membawa produk flagship ke tanah air. Tinggal menunggu pengumuman resmi saja.
Apakah Ini Masa Depan Handheld Gaming?
Langkah Lenovo beralih ke SteamOS bisa dibilang cukup berani, tapi juga sangat relevan dengan kebutuhan gamer saat ini. Fokus ke efisiensi, performa, dan pengalaman pengguna jadi kunci utama.
Dengan hardware kelas atas, layar OLED besar, kontroler fleksibel, dan sistem operasi yang ringan, Legion Go 2 versi SteamOS terasa seperti evolusi alami dari generasi sebelumnya.
Kalau tren ini berlanjut, bukan nggak mungkin lebih banyak produsen handheld lain bakal mengikuti jejak Lenovo. Gaming genggam pun semakin mendekati pengalaman konsol, tapi tetap portable.
Buat kamu yang pengin handheld kencang, praktis, dan bebas ribet, Legion Go 2 SteamOS jelas layak masuk wishlist. Tinggal siapin budget dan nunggu masuk resmi karena dari semua sisi, perangkat ini kelihatan benar-benar “level up”.
Baca artikel lainnya

